Kenapa Terlambat Menuju Surga?


Kita hidup di dunia ini bagaikan seorang musafir yang sedang berteduh. Hanya sebentar saja dari umur kita untuk merasakan kehidupan di dunia ini. Masih ada tempat akhir yang tentunya harus kita tuju, yaitu akhirat. Pertanyaannya, sudah seberapa jauh hidup kita untuk menuju kesana?

Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Ibnu Umar RA, “Jadilah engkau hidup di dunia ini bagaikan seorang asing atau musafir. (orang yang berpergian). HR.Bukhari. Artinya kita ini sedang dalam perjalanan menuju akhirat. Kehidupan di dunia yang hanya sementara ini tak perlu dikejar-kejar. Cukuplah menanam di dunia agar bekalnya dapat kita amalkan di akhirat.

Sebagai seorang muslim tentunya kita mengharapkan akhir yang baik atau khusnul khotimah. Kita mengharapkan ridho Allah SWT agar dipertemukan dengan-Nya, dimasukkan ke dalam surga-Nya, serta dijauhkan dari neraka-Nya. Maka, sikap seorang muslim yang sesungguhnya selama di dunia ini adalah menuju surga-Nya.

Ibarat sebuah perjalanan, orang yang sudah dekat dengan surga Allah SWT tentunya sudah merasakan hawanya. Bagaikan seorang yang sedang menuju penjual minyak wangi tentu sudah merasakan wanginya dari jarak tertentu. Akan tetapi, setiap muslim yang sedang menuju Allah SWT memiliki kualitas yang berbeda-beda. Ada yang cepat ada pula yang lambat.

Kok bisa? Mungkin seorang muslim yang lambat menuju surga itu karena tidak segera berangkat. Ibarat seseorang yang sedang menuju suatu tempat, ia tidak segera bergegas malah menundanya. Begitu pula muslim yang terlambat menuju surga, ia selalu menunda-nunda amalnya merasa masih ada waktu untuk mempercepat di tengah jalan. Sikap seorang muslim inilah yang membuatnya terlambat menuju surga.

Adapula seorang musafir yang sangat lambat dalam perjalanan. Seharusnya ia bisa mencapai suatu tempat dalam waktu 2 jam, kenyataannya ia mencapainya dalam waktu 5 jam. Perumpamaan tersebut bagaikan seorang muslim yang merasa berat dalam beramal. Ia beramal dengan tidak kaffah alias setengah-setengah. Maka perjalanannya pun dengan kecepatan setengah-setengah. Jangan sampai kita masuk surga pun setengah-setengah.

Hal lain yang menyebabkan seorang muslim terlambat menuju surga karena beramal dengan motif dunia. Ibarat seseorang yang sedang dalam perjalanan, ia terlalu sering mampir sehingga membuang-buang waktu dan akibatnya ia terlambat. Amalan yang ia perbuat di dunia tidak didasarkan kepada Allah SWT, tapi untuk dunia. Hal ini disebut riya’ yang merupakan sikap syirik kecil.

Kemudian yang keempat, alasan yang membuat seseorang terlambat mungkin karena sering bolak-balik. Dia beramal tapi juga bermaksiat, STMJ (Sholat Tetap, Maksiat Jalan). Karenanya ia tidak dapat bersegera mendapat surga.

Dan kemungkinan yang terakhir adalah  tersesat. Bisa jadi seseorang terlambat karena tersesat. Seorang muslim yang terlambat menuju surga kemungkinan ia beramal tidak sesuai tuntunan Allah SWT dan Rasulullah SAW. Ia beramal seenaknya sendiri dan tidak memperhatikan perintah dan tuntunannya, karenanya ia terlambat menuju surga.

Karenanya, sebagai seorang muslim kita harus bersegera menuju surga-Nya. Kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput kita. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَآءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.

Wallahu A’lam bish showab. (ESP)

Disarikan dari :
Kajian Tadabbur Al-Quran (28 Oktober 2017) – Ust. Drs. Syatori Abdul Rauf