Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Bayyinah ayat ke 5 :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ …ى

 “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus mendirikan sholat serta membayar zakat …” (QS. Al-Bayyinah : 5).

Ayat tersebut menerangkan bahwa Allah SWT memerintahkan kepada kita agar beribadah dengan keikhlasan mengharap ridha-Nya. Meniatkan segala amal perbuatan dengan ikhlas untuk Allah SWT. Akan tetapi, sudahkah kita tahu apa itu ikhlas?

Ikhlas berasal dari bahasa arab Ikhlâsh, berakar dari kata khalasha yang memiliki arti bersih, jernih, murni, tidak bercampur. Maka ikhlas secara bahasa berarti membersihkan atau memurnikan. Adapun secara populer ikhlas sering diartikan berbuat tanpa pamrih; hanya semata-mata untuk Allah SWT.

Lalu bagaimanakah dengan seseorang yang bekerja, apakah pekerjaannya tidak bisa dikatakan ikhlas lantaran mendapatkan gaji? Apakah seorang dosen atau guru tidak bisa disebut ikhlas mengajar lantaran mendapatkan gaji? Maka Prof. Yunahar Ilyas, Lc. membagi ikhlas menjadi tiga unsur yaitu :[1]

  1. Niat yang Ikhlas

Niat dalam islam memiliki kedudukan yang penting. Setiap amalan ibadah yang kita lakukan harus dilaksanakan dengan niat terlebih dahulu. Bahkan maqbul tidaknya suatu amalan pun tergantung daripada niat sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَاتِ وَ إِنَّمَا لِكُلِّ امْرِءٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَي اللهِ وَ رَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ اِلَي اللهِ وَ رَسُوْلِهِ وَ مَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَي مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ (رواه بخاري و مسلم

Semua amal perbuatan tergantung pada niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah karena dunia yang ia cari atau wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya untuk apa yang ia tuju” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka niat yang benar adalah niat yang hanya ditujukan kepada Allah SWT. Itulah yang disebut niat yang ikhlas. Adapun jika niat yang dikerjakannya tidak untuk Allah SWT, maka amalannya diangga riya’.

  1. Beramal dengan sebaik-baiknya

Niat yang ikhlas harus diiringi pula dengan amal yang baik, tidak boleh asal-asalan apalagi sembarangan. Sebagaimana ibadah kita, umpamakan saja sholat. Sebelum kita sholat, kita diperintahkan untuk niat terlebih dahulu. Setelah niat yang sungguh-sungguh maka  selanjutnya adalah menjalankan sholat dengan khusyu’ dan tuma’ninah. Tidak asal-asalan.

Begitu pula dalam keseluruhan hidup kita sehari-hari. Seorang guru mengajar ikhlas tanpa pamrih kecuali mengharap ridha Allah SWT, bukan berarti bisa seenaknya saja dalam mengajar. Pola pikir yang demikian tersebut sungguh salah, karena seharusnya jika ia beramal hanya untuk Allah SWT maka berarti dia harus beramal dengan sebaik-baiknya melebihi amalnya di depan manusia.

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda :

(إِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنُهُ (رواه البيهاقي

Sesungguhnya Allah SWT menyukai seseorang yang apabila dia beramal dia melakukan dengan sebaik-baiknya.” (HR. Baihaqi)

  1. Pemanfaatan hasil usaha dengan tepat

Setelah mendapatkan hasil dari niat serta usaha yang ikhlas, maka selanjutnya adalah memanfaatkan hasil usaha tersebut juga untuk Allah SWT. Sebagai contoh, seorang murid niat belajar untuk Allah, kemudian ia belajar dengan bersungguh-sungguh dan memperoleh ilmu. Maka tugas ia selanjutnya adalah memanfaatkan ilmu yang ia dapat untuk Allah SWT.

Sungguh merugi apabila kita sebagai hamba-Nya tidak bersyukur atas apa yang Allah SWT berikan. Pemanfaatan hasil usaha ini merupakan salah satu cara kita untuk mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan. Ikhtiar memang kewajiban kita, akan tetapi terpenuhi atau tidaknya hasil ikhtiar kita Allah SWT-lah yang menentukan. Tidak selayaknya sebagai manusia kita merasa sombong atas apa yang kita raih sedangkan semuanya berasal dari Allah SWT.

Ikhlas adalah kewajiban kita dalam menjalankan berbagai amalan dan pekerjaan apapun. Karena sejatinya segala ibadah kita, hidup kita bahkan matinya kitapun hanya untuk Allah SWT. Wallahu A’lam bish-Showab.

[1] Yunahar Ilyas. 2009. Kuliah Akhlaq. Bantul : LPPI

One thought on “Tiga Unsur Keihklasan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

%d bloggers like this: