Sejarah Pendirian TPA Nurul Islam Yogyakarta

Bermula dari gagasan ibu-ibu pengurus Yayasan Nurul Islam yang memiliki keprihatinan terhadap generasi muda yang banyak buta baca Al-Qur’an. Akhirnya, pada tanggal 1 Oktober 1978, didirikan Madrasah Diniyah (Madin) Nurul Islam sebagai tempat belajar baca tulis Al-Qur’an bagi anak-anak. Madrasah Diniyah tersebut berlokasi di Jalan Kaliurang KM 5,6 Sarimulyo, Manggung, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta.

Madrasah Diniyah Nurul Islam awalnya dikelola secara mandiri dengan menggunakan dana iuran pengurus yang dibayar setiap bulannya. Oleh sebab itu, fasilitas belajar sangat terbatas. Kelas-kelas hanya bersekat kayu. Namun demikian, Madrasah Diniyah terus bertahan hingga memiliki santri berjumlah 150 orang selama kurang lebih 14 tahun. Sedangkan pengajarnya yaitu H. Sukamto dan kelima orang lainnya, mendedikasikan diri mereka untuk mengajar anak-anak disetiap sore pada hari ahad sampai kamis. Dengan tujuan agar anak-anak mampu membaca Al-Qur’an dengan tartil, menjalankan shalat dengan benar dan berakhlak mulia.

Pada tahun 1981, pembangunan Mushola Nurul Islam selesai sebagai bagian dari proyek yayasan. Mushola tersebut terwujud atas kerja keras Alm. H. Djarody dan juga para donatur lainnya. Mushola Nurul Islam mengalami dua kali renovasi yang pada akhirnya mengubah mushola menjadi masjid. Pada hari Jumat, 25 Maret 1988, akhirnya Masjid Nurul Islam diresmikan oleh Drs. Sukirman yang menjabat sebagai Bupati Sleman kala itu.

Meskipun Masjid Nurul Islam telah berdiri, kondisi Madrasah Diniyah semakin melemah. Berkurangnya animo masyarakat terhadap pendidikan Al-Qur’an menyebabkan anak-anak yang datang mengaji lambat laun semakin berkurang. Setelah vakum lama, pada tahun 1992, beberapa orang pemuda yang peduli dengan anak-anak, bertekad untuk terus mengajarkan Al-Qur’an. Mereka mengajar di serambi Masjid Nurul Islam. Mereka adalah Niswati dan teman-temannya yang merupakan warga pendatang atau ngekos di sekitar Masjid. Materi utama dan satu-satunya yang diajarkan ketika itu adalah membaca Al-Qur’an dengan metode Iqro’. Semenjak saat itu pula, Madrasah Diniyah berganti nama menjadi TPA Nurul Islam.

TPA Nurul Islam harus kembali mengalami keguncangan. Manajemen TPA tidak lagi sejalan dengan manajemen takmir Masjid Nurul Islam. Akibatnya posisi TPA menjadi semakin lemah. Anak-anak didik semakin berkurang begitu pula dengan pengajarnya.

Tahun 2014, manajemen TPA diambil alih oleh Forum Pemuda Masjid (FPM) Nurul Islam. Pada saat itu diketuai oleh Sapto Jati Pamungkas. Sebagai ketua yang independent, bersama dengan rekan-rekannya di FPM aktif menggalang dana dan merevitalisasi manajemen TPA. Para pengajar direkrut dari para mahasiswa yang bertempat tinggal/kos di sekitar masjid. Mereka adalah orang-orang yang telah terlatih dalam membaca Al-Qur’an dengan tartil dan berkomitmen tinggi untuk mengajar. Materi TPA tidak sebatas membaca Iqro’ atau Al-Qur’an, tetapi juga terkait ibadah, fiqih, tarikh, dan akhlak. Semenjak 2014 hingga saat ini, TPA Nurul Islam menemukan kehidupan barunya.

Landasan

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

(QS. Al Mujadillah: 11)

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

(QS. Ali Imran: 79)

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya

(HR. Bukhari)